Kamis, 19 Mei 2016



              Rahman Anak Shaleh

            Sinar matahari siang itu begitu terik, seorang anak lelaki yang berumur kira-kira tujuh tahun “Alhamdulillaahirabbil’alamiin” saat melihat cuaca di luar terang benderang. Karena ia berfikir pakaian yang ia jemur akan segera kering, sudah dua hari dia tak berganti pakaian karena hanya memiliki tiga setel baju yang keduanya ia jemur dan yang satunya ia kenakan saat ini.
            Melihat suasana yang semakin cerah, anak lelaki bernama Rahman itu memberanikan diri untuk meminta izin kepada sang Ibu yang terlihat tengah kesusahan menyalakan api di dalam tungku. Hujan yang selama beberapa minggu ini turun begitu deras membuat kayu-kayu yang ia simpan di luar rumah menjadi basah. Rahman yang melihat kejadian di depan matanya mengurungkan niatnya untuk pergi bermain.
            “Rahman boleh bantu, Ibu?” Suara kecil yang terdengar sopan membuat wanita separuh baya itu membalikkan tubuhnya.
            “Iya. Boleh, Man.. Tolong carikan kayu bakar yang agak kering di hutan biasa tempat kita mencari kayu, ya? Agar apinya cepat menyala dan kita bisa segera makan.” Anak itu menganggukkan kepala mendengar perintah Ibunya. Wanita bernama Fatimah itu tersenyum haru melihat anaknya yang begitu penurut.
            Kaki kecil Rahman akhirnya melangkah dari dapur yang sudah terlihat usang itu, penyangga yang terbuat dari bambu juga sudah terlihat rapuh dan hampir roboh. Mirisnya, tak ada pria selain Rahman yang menyinggahi rumah kecil tersebut. Ya, mereka hanya tinggal berdua setelah dua tahun sang Ayah yang juga suami Fatimah pergi dari rumah tanpa alasan yang jelas.
            Kaki kecil Rahman cukup kuat berjalan dengan jarak satu kilometer dari rumahnya, mungkin karena sudah terbiasa berjalan sejauh itu perjalanan pun mudah untuk ia tempuh kurang dari lima belas menit saja.
            Tanpa bekal air sedikitpun, Rahman dengan semangat mencari ranting-ranting pohon yang berserakan. Ia coba sentuh ranting-ranting tersebut dengan tangan mungilnya untuk memastikan mana kayu yang basah dan kayu yang kering. Hingga akhirnya dia mampu mengumpulkan kayu kering yang lumayan banyak untuk dipersembahkan kepada Ibunda tercinta.
            Ditaruhnya seikat kayu yang berhasil ia kumpulkan di atas pundak yang terlihat begitu kurus, sebenarnya tak pantas seorang anak berumur tujuh tahun mengerjakan pekerjaan yang harusnya ditanggung oleh orang dewasa. Namun Rahman tulus membantu pekerjaan Ibunya, karena kalau bukan dia siapa lagi? Begitu tega sang Ayah menelantarkan anak dan isteri yang menjadi tanggung jawab dunia dan akhiratnya.
            Kembali, dengan langkah kecilnya Rahman melangkahkan kaki. Sinar matahari kian terik menyengat kulit Rahman yang mulai mengeluarkan peluh yang berasal dari dahi mungilnya. Namun tak ia hiraukan, ia tetap berjalan tanpa beristirahat sedikitpun. Rahman tak ingin Ibunya menunggu dan menahan rasa lapar terlalu lama.
            Melihat Rahman dari kejauhan yang tengah tergopoh-gopoh membawa seikat kayu seorang diri, Fatimah tak kuasa menahan airmatanya. Ia benar-benar menyesal, mengapa ia harus menyuruh Rahman mencari kayu seorang diri. Bagaimana jika ada orang yang berhati kotor atau hewan buas yang bisa mencelakai anak semata wayangnya itu? Namun ia segera menepis prasangka buruk yang menyelinap ke dalam hatinya, karena buktinya sekarang permata hati Fatimah sudah berada di depannya dengan senyuman manis yang masih menghiasi bibirnya yang tipis dan merah merona.
            “Ibu kenapa menangis? Apa Ibu sudah tak kuat menahan lapar?” Fatimah terkejut mendengar pertanyaan sang buah hati, ia baru sadar bahwa airmatanya masih mengalir di atas pipinya yang tak lagi semulus dulu.
            “Oh, maafkan Ibu, Rahman. Ibu hanya khawatir terhadapmu. Ibu menyesal membiarkanmu pergi sendirian. Ibu takut terjadi apa-apa kepadamu.” Ucap Fatimah seraya membelai lembut rambut Rahman.
“Rahman baik-baik saja, Bu. Ayo, cepat nyalakan apinya. Rahman sudah sangat lapar.” Ia merengek polos. Fatimah Ibunya mengangguk dan segera menyalakan api yang sedari tadi tak kunjung membara.
Disaat Rahman dan Ibunya menunggu nasi matang, tiba-tiba Rahman mengajukan suatu permintaan yang entah ke berapa kali kepada Fatimah.
“Ibu, Rahman ingin masuk Psantren.” Hati Fatimah kembali terasa perih saat mendengar keinginan anak satu-satunya itu. Bukannya ia tida mau memasukkannya ke sebuah Psantren yang berada di kampungnya, namun karena faktor biaya yang membuat Fatimah kebingungan. Uang untuk biaya sekolah Rahman saja sudah terbilang sangat susah untuk didapat, apalagi jika ditambah dengan biaya Psantren.
“Rahman anak Ibu, sabarlah.. Ibu akan segera usahakan agar kamu bisa cepat masuk Psantren. Doakan Ibu ya, sayang?” Fatimah kembali membelai rambut Rahman.
“Rahman selalu mendoakan Ibu.” Ujarnya polos.
Nasi yang mereka tunggu akhirnya matang, Fatimah dan Rahman menunda percakapan mereka dulu karena sama-sama merasa kelaparan. hanya satu bungkus krupuk yang menjadi teman nasi yang mereka santap saat itu. Namun tetap terasa nikmat jika mereka memakannya bersama-sama.
Dua hari sudah berlalu, Fatimah sudah memikirkan dengan matang bahwa ia akan pergi ke luar Negeri untuk menjadi seorang TKW. Ia tak ingin melihat anaknya terus menderita karena kekurangan materi, bukannya ia tak bersyukur, namun ia hanya ingin hidupnya menjadi lebih baik. Terlebih lagi Fatimah ingin memasukkan Rahman ke Psantren.
“Tolong Pak Ustadz, saya titip Rahman. Bantu dia agar menjadi anak yang lebih sholeh dan patuh terhadap Allah.” Ujar Fatimah ketika mendaftarkan Rahman masuk ke dalam Psantren Al-Amanah.
“Insya Allah, Ibu Fatimah. Sudah sejak lama saya mengharapkan Rahman masuk ke Psantren ini, dan Alhamdulillah sekarang terwujud. Rahman anak yang baik, Insya Allah dia akan menjadi anak yang berguna bagi Ibu, keluarga, Agama juga Negara nanti.” Mendengar penuturan Ustadz Hamzah, Fatimah tak kuasa membendung air matanya. Ia memeluk Rahman yang kini tengah berada di sampingnya.
“Rahman.. Jadilah anak yang soleh, patuhlah terhadap Allah juga apa yang selalu diperintahkan Ustadz Hamzah. Ibu pasti segera kembali, Ibu sayang kamu, Rahman..” Anak lelaki itu tak berkata apa-apa selain menumpahkan air mata di pelukan Ibunya. Kejadian yang mengharukan itu juga membuat Ustadz Hamzah menjatuhkan airmatanya.
“Janji sama Ibu ya, Rahman?” Fatimah melepaskan pelukannya dan menatap lekat kedua bola mata milik anaknya. Rahman mengangguk di sela tangisnya.
“Rahman sayang Ibu. Terimakasih Ibu..” Kalimat yang keluar dari mulut Rahman membuat tangis Fatimah kembali meledak tanpa suara. Dipeluknya kembali dengan erat anak yang sangat ia cintai itu. Namun mereka tak bisa berlama-lama menghabiskan waktu, Fatimah sudah harus pergi.
Rahman tak kuasa menahan airmatanya yang kian deras saat melihat Ibunya beranjak pergi dan menjauh dari hadapannya. Sungguh sakit perasaan anak kecil itu, namun Ustasdz Hamzah segera mendekatinya, mengusap rambut Rahman pelan seperti yang biasa Fatimah lakukan terhadapnya.
“Rahman.. Kamu harus sabar, jadilah anak kebanggaan Ibumu.” Ustadz Hamzah kembali meneteskan airmata ketika mengecup rambut Rahman. Di bawanya anak kecil itu ke dalam kamar yang sudah Ustadz sediakan, ada lima orang anak di dalam kamar sana. Dua di antara nya sudah terlihat remaja, sengaja Ustadz menempatkan anak yang agak tua agar ada pembimbing dan pengawas bagi anak-anak seusia Rahman.
“Ahlaan Wasahlaan ya Akhy..” Sambut mereka ramah saat melihat Rahman datang bersama Ustadz Hamzah.
“Ahlaan Biik..” Jawab Rahman yang sudah sedikit mengerti bahasa ‘Arab karena yang seringkali diajarkan Ibunya, Fatimah.
“Tolong jaga Rahman dengan baik.”
“Na’am, Ustadz.” Kedua pria remaja bernama Syakir dan Syahdan menganggukkan kepala dengan sopan. Akhirnya Ustadz Hamzah meninggalkan Rahman setelah berpamitan.
“Namamu Rahman, adik kecil?” Tanya Syakir  yang melihat Rahman dengan gemas. Rahman menganggukkan kepala, sepertinya ia masih malu.
“Perkenalkan, nama kakak Syakir. Dan ini Kakak Syahdan. Dan ini teman-teman yang juga seumur denganmu. Yang memakai baju berwarna biru namanya Fadil, yang tengah membaca Iqra’ bernama Arif, dan yang giginya hitam namanya Hafiz. Mendengar kalimat “gigi hitam”, anak kecil bernama Hafiz itu menunjukkan giginya yang memang benar-benar berwarna hitam, Rahman tertawa kecil melihat tingkah sahabat barunya itu.
“Kau anak yang baik dan pintar. Tempat tidurmu di samping Kakak Syahdan, ya?” Rahman mengangguk. Ia merasa begitu senang mendapatkan sahabat-sahabat baru yang begitu baik terhadapnya.
Beberapa bulan sudah Rahman lalui hidup di Psantren, dan kini ia sudah mampu menghafal 8 Juz Surat yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an. Para Ustadz begitu bangga terhadapnya, terlebih lagi pemilik Psantren, Ustadz Hamzah yang begitu menyayanginya. Setiap bulan Ibunya Fatimah selalu memberi kabar kepada putranya melewati Ustadz Hamzah, begitu terharunya Fatimah saat mendengar suara Rahman yang terdengar begitu ceria, terlebih lagi saat ia diberitahu oleh Ustadz Hamzah bahwa Rahman sudah hafal 8 Juz Surat Al-Qur’an. Dan bulan depan dia akan diikut sertakan dalam lomba Hafiz Qur’an.
Dan waktu itu sudah tiba, Rahman sudah masuk tiga besar dan akan mengikuti final. Ustadz Hamzah dan teman-temannya yang setia member dukungan kepada Rahman membuatnya semakin semangat, dan sekarang dia sudah hafal 15 Juz Surat. Subhanallah!
Keikut sertaan Rahman dalam acara Hafiz Qur’an yang juga ditayangkan di televisi membuat seorang pria yang tak lain adalah Ayahnya merasa sangat terharu dan bangga. Anaknya yang ia telantarkan selama kurang lebih tiga tahun kini telah menjelma menjadi makhluk yang mampu menghafal kalam-kalam Allah. Tak terasa airmata nya menetes saat mendengar penuturan Rahman yang berkata bahwa ia tinggal di Psantren karena Ayahnya yang pergi meninggalkannya dan Ibunya yang sekarang tengah berada di Negeri orang lain untuk membiayai kehidupannya.
Saat final Hafiz Qur’an tiba, pembawa acara di Hafiz Qur’an itu bertanya kepada Hafiz seusai ia membaca ayat-ayat Al-Qur’an di atas panggung.
“Rahman.. Apa Rahman cinta Ayah dan Ibu?” Rahman menganggukkan kepalanya, wajahnya terlihat sangat polos.
“Rahman rindu Ayah dan Ibu?” Mendengar pertanyaan itu, airmata Rahman mengalir begitu saja membasahi kulit wajahnya yang lembut.
“Coba katakan sesuatu untuk Ayah dan Ibu.” Pembawa acara itu ikut menangis.
“Ibu, Ayah, Rahman rindu kalian..” Rahman menundukkan kepala. Tiba-tiba tubuhnya terasa hangat karena sebuah pelukkan. Bukan dua tangan yang memeluknya saat itu, melainkan empat tangan.
“Ayah? Ibu?” Tangis Rahman meledak saat ia melihat bahwa yang tengah memeluknya saat ini adalah kedua orang yang begitu dicintainya. Semua hadirin, juri dan pembawa acara juga ikut meneteskan airmata. Rasa haru itu semakin bertambah saat diumumkannya Rahman yang menjadi sang Juara.
Berkat kesabaran serta ke-shalehannya, akhirnya Rahman hidup bahagia. Ayah dan Ibunya kembali bersatu. Janji Rahman kepada Ibunya untuk menjadi anak yang shaleh memang benar-benar terbukti, walaupun Rahman sudah bahagia, bukan berarti Rahman tak menghafal Al-Qur’an lagi, bahkan ia lebih semangat untuk menggapai cita-citanya menjadi Hafiz Qur’an tingkat Internasional dengan melanjutkan pekerjaan rumahnya, menghafal 15 Juz Surat lagi di Pondok Psantren.