Rahman Anak Shaleh
Sinar matahari siang itu begitu terik, seorang anak lelaki
yang berumur kira-kira tujuh tahun “Alhamdulillaahirabbil’alamiin” saat melihat
cuaca di luar terang benderang. Karena ia berfikir pakaian yang ia jemur akan
segera kering, sudah dua hari dia tak berganti pakaian karena hanya memiliki
tiga setel baju yang keduanya ia jemur dan yang satunya ia kenakan saat ini.
Melihat suasana yang semakin cerah, anak lelaki bernama
Rahman itu memberanikan diri untuk meminta izin kepada sang Ibu yang terlihat
tengah kesusahan menyalakan api di dalam tungku. Hujan yang selama beberapa
minggu ini turun begitu deras membuat kayu-kayu yang ia simpan di luar rumah
menjadi basah. Rahman yang melihat kejadian di depan matanya mengurungkan
niatnya untuk pergi bermain.
“Rahman boleh bantu, Ibu?” Suara kecil yang terdengar
sopan membuat wanita separuh baya itu membalikkan tubuhnya.
“Iya. Boleh, Man.. Tolong carikan kayu bakar yang agak
kering di hutan biasa tempat kita mencari kayu, ya? Agar apinya cepat menyala
dan kita bisa segera makan.” Anak itu menganggukkan kepala mendengar perintah
Ibunya. Wanita bernama Fatimah itu tersenyum haru melihat anaknya yang begitu
penurut.
Kaki kecil Rahman akhirnya melangkah dari dapur yang
sudah terlihat usang itu, penyangga yang terbuat dari bambu juga sudah terlihat
rapuh dan hampir roboh. Mirisnya, tak ada pria selain Rahman yang menyinggahi
rumah kecil tersebut. Ya, mereka hanya tinggal berdua setelah dua tahun sang
Ayah yang juga suami Fatimah pergi dari rumah tanpa alasan yang jelas.
Kaki kecil Rahman cukup kuat berjalan dengan jarak satu
kilometer dari rumahnya, mungkin karena sudah terbiasa berjalan sejauh itu
perjalanan pun mudah untuk ia tempuh kurang dari lima belas menit saja.
Tanpa bekal air sedikitpun, Rahman dengan semangat
mencari ranting-ranting pohon yang berserakan. Ia coba sentuh ranting-ranting
tersebut dengan tangan mungilnya untuk memastikan mana kayu yang basah dan kayu
yang kering. Hingga akhirnya dia mampu mengumpulkan kayu kering yang lumayan
banyak untuk dipersembahkan kepada Ibunda tercinta.
Ditaruhnya seikat kayu yang berhasil ia kumpulkan di atas
pundak yang terlihat begitu kurus, sebenarnya tak pantas seorang anak berumur
tujuh tahun mengerjakan pekerjaan yang harusnya ditanggung oleh orang dewasa.
Namun Rahman tulus membantu pekerjaan Ibunya, karena kalau bukan dia siapa
lagi? Begitu tega sang Ayah menelantarkan anak dan isteri yang menjadi tanggung
jawab dunia dan akhiratnya.
Kembali, dengan langkah kecilnya Rahman melangkahkan
kaki. Sinar matahari kian terik menyengat kulit Rahman yang mulai mengeluarkan
peluh yang berasal dari dahi mungilnya. Namun tak ia hiraukan, ia tetap
berjalan tanpa beristirahat sedikitpun. Rahman tak ingin Ibunya menunggu dan
menahan rasa lapar terlalu lama.
Melihat Rahman dari kejauhan yang tengah tergopoh-gopoh
membawa seikat kayu seorang diri, Fatimah tak kuasa menahan airmatanya. Ia
benar-benar menyesal, mengapa ia harus menyuruh Rahman mencari kayu seorang
diri. Bagaimana jika ada orang yang berhati kotor atau hewan buas yang bisa
mencelakai anak semata wayangnya itu? Namun ia segera menepis prasangka buruk
yang menyelinap ke dalam hatinya, karena buktinya sekarang permata hati Fatimah
sudah berada di depannya dengan senyuman manis yang masih menghiasi bibirnya
yang tipis dan merah merona.
“Ibu kenapa menangis? Apa Ibu sudah tak kuat menahan
lapar?” Fatimah terkejut mendengar pertanyaan sang buah hati, ia baru sadar
bahwa airmatanya masih mengalir di atas pipinya yang tak lagi semulus dulu.
“Oh, maafkan Ibu, Rahman. Ibu hanya khawatir terhadapmu.
Ibu menyesal membiarkanmu pergi sendirian. Ibu takut terjadi apa-apa kepadamu.”
Ucap Fatimah seraya membelai lembut rambut Rahman.
“Rahman
baik-baik saja, Bu. Ayo, cepat nyalakan apinya. Rahman sudah sangat lapar.” Ia
merengek polos. Fatimah Ibunya mengangguk dan segera menyalakan api yang sedari
tadi tak kunjung membara.
Disaat
Rahman dan Ibunya menunggu nasi matang, tiba-tiba Rahman mengajukan suatu
permintaan yang entah ke berapa kali kepada Fatimah.
“Ibu,
Rahman ingin masuk Psantren.” Hati Fatimah kembali terasa perih saat mendengar
keinginan anak satu-satunya itu. Bukannya ia tida mau memasukkannya ke sebuah
Psantren yang berada di kampungnya, namun karena faktor biaya yang membuat
Fatimah kebingungan. Uang untuk biaya sekolah Rahman saja sudah terbilang
sangat susah untuk didapat, apalagi jika ditambah dengan biaya Psantren.
“Rahman
anak Ibu, sabarlah.. Ibu akan segera usahakan agar kamu bisa cepat masuk
Psantren. Doakan Ibu ya, sayang?” Fatimah kembali membelai rambut Rahman.
“Rahman
selalu mendoakan Ibu.” Ujarnya polos.
Nasi
yang mereka tunggu akhirnya matang, Fatimah dan Rahman menunda percakapan
mereka dulu karena sama-sama merasa kelaparan. hanya satu bungkus krupuk yang
menjadi teman nasi yang mereka santap saat itu. Namun tetap terasa nikmat jika
mereka memakannya bersama-sama.
Dua
hari sudah berlalu, Fatimah sudah memikirkan dengan matang bahwa ia akan pergi
ke luar Negeri untuk menjadi seorang TKW. Ia tak ingin melihat anaknya terus
menderita karena kekurangan materi, bukannya ia tak bersyukur, namun ia hanya
ingin hidupnya menjadi lebih baik. Terlebih lagi Fatimah ingin memasukkan
Rahman ke Psantren.
“Tolong
Pak Ustadz, saya titip Rahman. Bantu dia agar menjadi anak yang lebih sholeh
dan patuh terhadap Allah.” Ujar Fatimah ketika mendaftarkan Rahman masuk ke
dalam Psantren Al-Amanah.
“Insya
Allah, Ibu Fatimah. Sudah sejak lama saya mengharapkan Rahman masuk ke Psantren
ini, dan Alhamdulillah sekarang terwujud. Rahman anak yang baik, Insya Allah
dia akan menjadi anak yang berguna bagi Ibu, keluarga, Agama juga Negara
nanti.” Mendengar penuturan Ustadz Hamzah, Fatimah tak kuasa membendung air
matanya. Ia memeluk Rahman yang kini tengah berada di sampingnya.
“Rahman..
Jadilah anak yang soleh, patuhlah terhadap Allah juga apa yang selalu
diperintahkan Ustadz Hamzah. Ibu pasti segera kembali, Ibu sayang kamu,
Rahman..” Anak lelaki itu tak berkata apa-apa selain menumpahkan air mata di
pelukan Ibunya. Kejadian yang mengharukan itu juga membuat Ustadz Hamzah
menjatuhkan airmatanya.
“Janji
sama Ibu ya, Rahman?” Fatimah melepaskan pelukannya dan menatap lekat kedua
bola mata milik anaknya. Rahman mengangguk di sela tangisnya.
“Rahman
sayang Ibu. Terimakasih Ibu..” Kalimat yang keluar dari mulut Rahman membuat
tangis Fatimah kembali meledak tanpa suara. Dipeluknya kembali dengan erat anak
yang sangat ia cintai itu. Namun mereka tak bisa berlama-lama menghabiskan
waktu, Fatimah sudah harus pergi.
Rahman
tak kuasa menahan airmatanya yang kian deras saat melihat Ibunya beranjak pergi
dan menjauh dari hadapannya. Sungguh sakit perasaan anak kecil itu, namun
Ustasdz Hamzah segera mendekatinya, mengusap rambut Rahman pelan seperti yang
biasa Fatimah lakukan terhadapnya.
“Rahman..
Kamu harus sabar, jadilah anak kebanggaan Ibumu.” Ustadz Hamzah kembali
meneteskan airmata ketika mengecup rambut Rahman. Di bawanya anak kecil itu ke
dalam kamar yang sudah Ustadz sediakan, ada lima orang anak di dalam kamar
sana. Dua di antara nya sudah terlihat remaja, sengaja Ustadz menempatkan anak
yang agak tua agar ada pembimbing dan pengawas bagi anak-anak seusia Rahman.
“Ahlaan
Wasahlaan ya Akhy..” Sambut mereka ramah saat melihat Rahman datang bersama
Ustadz Hamzah.
“Ahlaan
Biik..” Jawab Rahman yang sudah sedikit mengerti bahasa ‘Arab karena yang
seringkali diajarkan Ibunya, Fatimah.
“Tolong
jaga Rahman dengan baik.”
“Na’am,
Ustadz.” Kedua pria remaja bernama Syakir dan Syahdan menganggukkan kepala
dengan sopan. Akhirnya Ustadz Hamzah meninggalkan Rahman setelah berpamitan.
“Namamu
Rahman, adik kecil?” Tanya Syakir yang
melihat Rahman dengan gemas. Rahman menganggukkan kepala, sepertinya ia masih
malu.
“Perkenalkan,
nama kakak Syakir. Dan ini Kakak Syahdan. Dan ini teman-teman yang juga seumur
denganmu. Yang memakai baju berwarna biru namanya Fadil, yang tengah membaca
Iqra’ bernama Arif, dan yang giginya hitam namanya Hafiz. Mendengar kalimat
“gigi hitam”, anak kecil bernama Hafiz itu menunjukkan giginya yang memang
benar-benar berwarna hitam, Rahman tertawa kecil melihat tingkah sahabat
barunya itu.
“Kau
anak yang baik dan pintar. Tempat tidurmu di samping Kakak Syahdan, ya?” Rahman
mengangguk. Ia merasa begitu senang mendapatkan sahabat-sahabat baru yang
begitu baik terhadapnya.
Beberapa
bulan sudah Rahman lalui hidup di Psantren, dan kini ia sudah mampu menghafal 8
Juz Surat yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an. Para Ustadz begitu bangga
terhadapnya, terlebih lagi pemilik Psantren, Ustadz Hamzah yang begitu
menyayanginya. Setiap bulan Ibunya Fatimah selalu memberi kabar kepada putranya
melewati Ustadz Hamzah, begitu terharunya Fatimah saat mendengar suara Rahman
yang terdengar begitu ceria, terlebih lagi saat ia diberitahu oleh Ustadz
Hamzah bahwa Rahman sudah hafal 8 Juz Surat Al-Qur’an. Dan bulan depan dia akan
diikut sertakan dalam lomba Hafiz Qur’an.
Dan
waktu itu sudah tiba, Rahman sudah masuk tiga besar dan akan mengikuti final.
Ustadz Hamzah dan teman-temannya yang setia member dukungan kepada Rahman
membuatnya semakin semangat, dan sekarang dia sudah hafal 15 Juz Surat.
Subhanallah!
Keikut
sertaan Rahman dalam acara Hafiz Qur’an yang juga ditayangkan di televisi membuat
seorang pria yang tak lain adalah Ayahnya merasa sangat terharu dan bangga.
Anaknya yang ia telantarkan selama kurang lebih tiga tahun kini telah menjelma
menjadi makhluk yang mampu menghafal kalam-kalam Allah. Tak terasa airmata nya
menetes saat mendengar penuturan Rahman yang berkata bahwa ia tinggal di
Psantren karena Ayahnya yang pergi meninggalkannya dan Ibunya yang sekarang
tengah berada di Negeri orang lain untuk membiayai kehidupannya.
Saat
final Hafiz Qur’an tiba, pembawa acara di Hafiz Qur’an itu bertanya kepada
Hafiz seusai ia membaca ayat-ayat Al-Qur’an di atas panggung.
“Rahman..
Apa Rahman cinta Ayah dan Ibu?” Rahman menganggukkan kepalanya, wajahnya
terlihat sangat polos.
“Rahman
rindu Ayah dan Ibu?” Mendengar pertanyaan itu, airmata Rahman mengalir begitu
saja membasahi kulit wajahnya yang lembut.
“Coba
katakan sesuatu untuk Ayah dan Ibu.” Pembawa acara itu ikut menangis.
“Ibu,
Ayah, Rahman rindu kalian..” Rahman menundukkan kepala. Tiba-tiba tubuhnya
terasa hangat karena sebuah pelukkan. Bukan dua tangan yang memeluknya saat
itu, melainkan empat tangan.
“Ayah?
Ibu?” Tangis Rahman meledak saat ia melihat bahwa yang tengah memeluknya saat
ini adalah kedua orang yang begitu dicintainya. Semua hadirin, juri dan pembawa
acara juga ikut meneteskan airmata. Rasa haru itu semakin bertambah saat
diumumkannya Rahman yang menjadi sang Juara.
Berkat
kesabaran serta ke-shalehannya, akhirnya Rahman hidup bahagia. Ayah dan Ibunya
kembali bersatu. Janji Rahman kepada Ibunya untuk menjadi anak yang shaleh
memang benar-benar terbukti, walaupun Rahman sudah bahagia, bukan berarti
Rahman tak menghafal Al-Qur’an lagi, bahkan ia lebih semangat untuk menggapai
cita-citanya menjadi Hafiz Qur’an tingkat Internasional dengan melanjutkan
pekerjaan rumahnya, menghafal 15 Juz Surat lagi di Pondok Psantren.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar